19 Juni dan Bintang-Bintang yang Berpendar

Biasanya sebuah tulisan dimulai dengan “bismillah” atau “assalaamu’alaykum”, tapi ijinkanlah saya kali ini memulainya dengan “alhamdulillah”. Ya, hamdalah berbanyak kali atas begitu banyaknya nikmat Allah yang telah Dia berikan kepada saya. Pun penyesalan yang membuncah selalu menyeruak, mengingat diri ini yang masih sering kurang ajar, melanggar larangan-larangan-Nya.

Ya, alhamdulillah, tahun ini saya diberi kesempatan untuk mengikuti latihan kepemimpinan ITB. Latpim. Selain saya tertarik karena dapet sepatu gratis, baju gratis, celana gratis, makan gratis, tentu saja ketertarikan saya yang terbesar adalah karena saya betul-betul ingin menjadi seorang pemimpin beneran. Tentu, saya sebagai mahasiswa ITB selalu di doktrin bahwa mahasiswa ITB adalah “pemimpin bangsa masa depan” dan karenanya segala hal yang kecil-kecil adalah tabu untuk dibicarakan. Mahasiswa ITB seharusnya hanya ingin berurusan dengan yang besar-besar, yang berdampak sistemik, dan tentu saja infotainment tidak masuk ke dalam kategori ini. Kami seharusnya bercita-cita besar mengubah dunia, dan dalam kasus anak-anak masjid yang jadi mahasiswa ITB, cita-cita itu lebih luhur lagi: mengubah dunia agar sesuai syariat.

Maka latpim datang, berusaha memasukkan ide-ide besar ke kepala kami yang kadang sekeras batu ini. Pembicara-pembicara kelas tinggi didatangkan, didukung tempat yang representatif dan tidak ketinggalan dana yang luar biasa besar. Ya, sebenernya nggak besar-besar amat (satu orang disubsidi dua juta), tapi kalau uang sebesar itu diberikan kepada saya sekarang, insya Allah pekan depan saya menikah. Dan latpim angkatan kelima ini konon beda dari yang sebelumnya. Tidak ada latihan menembak pakai bedil beneran, dan yang paling jelas adalah pihak militer sebagai tuan rumah latpim ini dan latpim-latpim sebelumnya, kali ini cuma kebagian tugas mengatur peserta untuk makan dan mandi.

Oiya, peserta latpim kali ini dibagi dua, eh, tiga golongan. Golongan pertama adalah golongan elit himpunan plus presiden KM plus satu orang menteri (woi Cuz, lo menteri apa di kabinet?), sedangkan golongan kedua adalah elit unit-unit mahasiswa yang dikepalai oleh kawan saya Satya ketua PSTK. Golongan ketiga adalah golongan bingung, yang ikut latpim sebagai wakil dari waiting list. Waiting list ini muncul from nowhere karena ternyata banyak unit yang tidak mengirimkan wakilnya. Alhasil, ada kursi-kursi kosong yang sayang kalau tidak diduduki. Saya bolehlah berbangga karena saya adalah wakil golongan ketiga ini, dan status “wakil” ini membuat saya, yah, minimal sejajar dengan ketua unit. Kenapa disebut golongan bingung? Karena golongan ketiga ini tidak mewakili kepentingan apa-apa selain kepentingan diri sendiri untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Maka kami adalah orang-orang yang rendah hati, tidak banyak bicara, dan yang terpenting, kami berusaha untuk duduk dengan kepala tegak di setiap sesi materi. Walaupun kenyataannya susah. Ngantuk boi.

Nah, latpim yang dimulai tanggal 11 Juni 2010 ini berjalan dengan cukup baik menurut saya. Walaupun dari segi inti materi banyak yang protes. “Kok masih seven habit toh? Saya ini kahim, masak dikasih yang begituan lagi?” dan ungkapan-ungkapan yang senada beberapa kali masih saya dengar. Yah, saya bilang baik karena saya memang belum sepenuhnya hidup dengan perencanaan. Karena saya belum sepenuhnya bisa mengamalkan seven habit, yang kalau anda semua mencoba mempelajari akhlak Rasulullah, niscaya juga anda temukan yang sejenis. Malah ada tambahannya, seperti “habit sholat”, “habit zakat”, “habit puasa”, dan habit-habit lainnya yang bisa jadi lebih mulia dari seven habit karena berorientasi akhirat. Jadi, setelah latpim, saya, selayaknya pembelajar yang baik, saya mencoba mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Selain itu, di latpim angkatan lima ini, juga dihadirkan pembicara-pembicara additional yang, seperti saya bilang tadi, kelas tinggi. Ada pak Anies Baswedan dengan paradigma yang bagi saya luar biasa sekali. Bolehlah orang bilang beliau liberal atau sebagainya (walaupun kata ummi saya, beliau dulu waktu kuliah di FE UGM juga ikutan Jama’ah Shalahuddin, Gamaisnya UGM), tapi kan kebenaran bisa datang dari siapa pun, ya kan? Kemudian ada bu Betty Alisjahbana dengan jurus-jurus dan rumus-rumus team building yang tokcer. Dan tidak ketinggalan pak Palgunadi T. Setyawan yang kisah hidupnya luar biasa. Pake nggaya pula, memperlihatkan tabungannya yang isinya 500 juta lebih.

Dan malam ini, adalah malam terakhir. 19 Juni 2010. Kami semua, peserta latpim, mengelilingi api unggun seadanya, menyaksikan pertunjukan seadanya. Pertunjukan seadanya dari teman-teman kami sendiri, dan jelas seadanya karena waktu persiapannya satu jam saja tidak. Seadanya saja lah ya. Tetapi, hasilnya luarbiasa. Ada yang memang berbakat ngocol sehingga seakan-akan kami sedang menyaksikan Sule ngomong nggak jelas sendirian di depan. Ada kelompok yang berusaha meniru Opera van Java dan cukup sukses. Kelompok ini, yang saya sebut kelompok “kriminal” karena isinya adalah orang-orang bengal kreatif yang suka bikin rame (baca: bikin ketawa) pas sesi materi di dalam ruangan, adalah kelompok di mana saya bernaung. Di sini pula saya, dalam momen-momen langka yang bisa dihitung dengan jari, merasa diri sebagai minoritas dalam arti sesungguhnya. Hanya ada dua orang jawa! Padahal saya ini kan sedang di Pulau Jawa kan ya. Ah, sudahlah, hitung-hitung bisa belajar bahasa lain yang jarang saya dengar di kampung.

Kemudian, ada juga performance-performance yang lain yag walaupun tidak bisa dibilang sukses, tetapi saya beri angka 100 untuk kepercayaan diri mereka. Ya, pede adalah nilai lain yang kami dapatkan dari latpim ini, dan biasanya mengejawantah dalam keberanian meluap-luap yang entah-datang-dari-mana, yang membuat kami ingin maju ke depan dan mengutarakan apapun isi hati kami. Hasilnya pun luar biasa. Apresiasi para audiens melihat orang-orang nggak jelas di depan pun luar biasa. Seorang kawan saya yang maju ke depan, lalu membacakan salah satu alinea pembukaan UUD 45 dalam rangka menjelaskan kepempinan nasional versi dia. Hasilnya, dia dihadiahi tepuk tangan meriah dari seluruh penjuru ruangan. Nggak buruk kan?

Ketika malam semakin larut, api unggun semakin lesu. Kayu bakar hampir habis. Di tengah cahayanya yang meredup itu, saya menengadahkan kepala ke atas. Subhanallah, bintang-bintang berpendar berkilauan dengan latar belakang langit gelap tak berawan. Ada rasi Crux yang seperti layang-layang, Scorpio dan Sagittarius yang tentu tidak asing lagi bagi penggemar zodiak, dan sepertinya saya melihat semburat kabut seperti awan tetap ia tidak bergerak seperti awan. Oh, mungkin itulah Milky Way, salah satu lengan dari galaksi kita, bimasakti. Sungguh suatu fenomena langka yang tentu jarang terlihat di kota-kota metropolitan. Saya menengadahkan kepala, takjub, bahwa memang manusia ini sangat, sangat kecil sekali. We’re nothing special, nggak spesial sama sekali di alam raya yang luas ini. Entah berapa juta tahun yang dibutuhkan oleh cahaya bintang-bintang itu untuk sampai ke bumi. Luar biasa, dan itu mengingatkan saya kepada sebuah fragmen hidup saya dua tahun lalu. Bukan, bukan patah hati karena ditolak. Yah, ntar ya, di tulisan yang lain.

Mungkin juga, bintang-bintang itu malam itu muncul, berpendar dengan indah karena yah, bisa jadi sekelompok orang-orang yang sedang mengelilingi api unggun malam itu adalah bintang-bintang lain yang suatu saat akan bersinar lebih terang, mengangkat kegelapan dari bangsa ini. Dan bagi orang yang setipe dengan Cassanova, malam itu adalah malam inspirasi untuk gombalan-gombalan terbaru yang lebih dahsyat dan mematikan.

Karena engkaulah, wahai calon pemimpin bangsa, bintang yang lebih terang dari bintang-bintang yang berpendar di langit malam itu.

Hello world!

Seperti belajar programming, bikin blog juga dimulai dengan hello world.

Selamat pagi dunia! Ijinkan saya sedikit mengganggu ketenanganmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang iman dan memukau nalar seperti Dan Brown. Ah bukan, saya tidak hendak menjadi atheis atau pemuja akal. Saya hanyalah orang yang ingin menjadi pribadi muslim yang paripurna, yang seimbang, yang kontributif dengan sebesar-besarnya.

Selamat datang di Moderasi Akal dan Hati